MERCK untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

OXOID untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

BD/DIFCO untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

PRONADISA untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

HACH untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

SIGMA-ALDRICH untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

IWAKI PYREX untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

WHATMAN untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

JT BAKER untuk GLOBAL SCIENTIFIC

Global Scientific Jl. Tulip Raya Blok M3 No. 27 Griya Bandung Asri 2 Telp : 022-7533009 Fax : 022-87520422. Hp : 0856721729731 / 089695978078.

Rabu, 24 Agustus 2011

Alat/Instreumentasi/Test Kit




































JUAL Alkohol Teknis 96 % Murah

Jual Alkohol Teknis 96 % murah,,,Cek Aja

Rabu, 17 Agustus 2011

Media Mikrobiologi


Mikrobiologi


Mikrobiologi
Perhatian manusia tentang kesehatan sudah disadari sejak lama. Usaha ke arah hidup sehat telah dilakukan antara lain dengan distribusi air minum melalui pipa-pipa serta pembuangan limbah yang teratur. Penemuan oleh Anthony van Leeuwenhoeck serta perintis mikrobiologi lainnya telah membawa pemahaman manusia yang lebih baik mengenai mikroba. Perhatian yang besar pada masalah kesehatan merupakan awal perkembangan mikrobiologi lingkungan.
Kelompok-Kelompok Mikroba
Perkembangan teknologi telah meningkatkan industri dan senyawa-senyawa xenobiotik, keduanya telah memberikan tekanan yang cukup besar pada lingkungan sehingga perlu usaha-usaha mengatasi tekanan tersebut. Beberapa mikroba mampu mendegradasi cemaran limbah industri dan senyawa xenobiotik.
Mikrobiologi Udara
Atmosfer tersusun atas 2 lapisan utama yaitu troposfer dan stratosfer. Troposfer tersusun atas lapisan laminar, lapisan turbulen, lapisan friksi luar, dan lapisan konveksi. Atmosfer mengandung partikel-partikel yang disebut sebagai aerosol, salah satu komponen aerosol yaitu bioaerosol yang terdiri antara lain mikroba dan polen.
Mikroba udara sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, radiasi dan kelembaban relatif (RH) serta polutan. Mikroba udara sebagian merupakan jasad patogen yang merugikan kesehatan tumbuhan hewan maupun manusia.
Mikrobiologi Tanah
Tanah memiliki keragaman tekstur dan struktur, serta variasi dalam ketinggian maupun distribusi geografisnya. Mikroba tanah dijumpai pada hampir semua jenis tanah dan batuan, dari permukaan tanah hingga kedalaman, dari Antartika hingga gurun pasir yang kering. Kehadiran mikroba tanah ada yang bersifat menguntungkan antara lain dalam bidang pertanian, daur unsur, dan pertambangan tetapi juga ada yang merugikan karena patogen bagi tumbuhan, hewan, dan manusia.
Mikrobiologi Perairan
memiliki spesifikasi berdasarkan sifat fisika kimianya. Mikroba yang dijumpaipun beragam. Lingkungan pantai mengandung lebih banyak mikroba karena kaya akan nutrien yang berasal dari darat, sedangkan laut lepas populasi mikroba relatif lebih rendah.
Secara vertikal badan air laut dan air danau dibagi menjadi beberapa zone berdasarkan sifat fisika masing-masing, seperti ketersediaan cahaya dan suhu.
Mikrobiologi Lingkungan Ekstrem
Di laut mikroba dapat dijumpai bahkan pada palung laut dengan kondisi ekstrem bertekanan tinggi (barofil). Di dasar laut tertentu dijumpai celah hidrotermal dengan suhu sangat tinggi (termofil) dan di situ pun dijumpai mikroba. Tekanan tinggi dan suhu tinggi merupakan lingkungan ekstrem. Lingkungan ekstrem lainnya antara lain berupa asidofil, alkalofil, halofil, dan xerofil.
Mikroba dari lingkungan ekstrem memiliki prospek dalam bidang teknologi. Beberapa bidang seperti produksi enzim, pertambangan, serta pengolahan limbah telah memanfaatkan peran mikroba dari lingkungan ekstrem.
Siklus Karbon, Nitrogen, dan Sulfur
Nitrogen umumnya digunakan dalam bentuk garam mineral dan mengalami siklus secara oksidoreduksi. Nitrogen yang muncul dapat berbentuk amonium maupun nitrat. Beberapa proses yang berlangsung pada siklus nitrogen, antara lain amonifikasi, nitrifikasi, asimilasi, dan disimilasi reduksi nitrat. Sulfur relatif lebih banyak terdapat di alam, dalam bentuk sulfur oksida dan nitrogen sulfida.
Siklus Fosfor, Besi, dan Biogeokimia
organisme, sehingga disebut sebagai siklus biogeokimia. Siklus unsur dapat memberi manfaat bagi organisme karena menjamin tersedianya nutrien, akan tetapi di sisi lain proses yang terjadi dapat pula sangat merugikan, antara lain karena menyebabkan kerusakan bahan bangunan. Aktivitas manusia telah menyebabkan beberapa reservoir unsur yang semula dalam keadaan imobilisasi menjadi imobil dan masuk ke siklus unsur. Akibat mobilisasi tersebut, antara lain menipisnya cadangan bahan bakar fosil, peningkatan senyawa NOx dan SOX yang berperan dalam terjadinya hujan asam dan timbulnya efek rumah kaca.
Penerapan Bioteknologi Mikroba
Fermentasi merupakan salah satu bioteknologi yang memanfaatkan peran mikroba di dalam proses pembuatannya. Dalam penerapan bioteknologi mikrobanya yang perlu diperhatikan adalah prinsip-prinsip bioteknologinya, seperti produk, kultur mikroba, pengembangan galur, substrat produksi, proses produksi, dan pengunduhan hasil.
Produk Bioteknologi Mikroba
Mikroba berperan utama dalam bioteknologi. Dalam masalah-masalah lingkungan bioteknologi mikroba memberikan sumbangan besar antara lain dalam produksi biopestisida, pupuk biologis, pengkomposan, penanganan limbah, produksi bio-gas, penambangan minyak dan pelindihan logam.
Peran tersebut dapat menggantikan teknologi yang selama ini digunakan dan memberi sumbangan bagi perbaikan kualitas lingkungan. Ancaman sisa pestisida, cemaran senyawa toksik, penurunan kualitas tanah dapat dikurangi dengan memanfaatkan mikroba.
Peran Mikroba dalam Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan
Mikroba dalam agrikultur memiliki peran yang sangat besar. Berbagai mikroba terbukti menyebabkan kerugian karena merupakan patogen bagi tanaman pangan dan industri, serta ternak. Di lain pihak mikroba juga menguntungkan bagi tumbuhan antara lain karena perannya dalam menekan mikroba patogen serta parasit, membantu dalam penyediaan nutrien.
Dalam kaitannya dengan agrikultur, beragam mikroba bermanfaat telah berhasil dikembangkan sebagai agen pengendali hayati patogen, parasit, gulma dan hama. Mikroba telah pula dikembangkan sebagai alternatif pupuk tumbuhan serta makanan tambahan.
Peran Mikroba pada Peternakan dan Perikanan
Peran mikroba yang terdapat dalam peternakan dan perikanan dapat merugikan dan menguntungkan. Beberapa penyakit yang menyerang peternakan dan perikanan, antara lain enteritis, salmonellosis, pasteurellosis, tifoid, paratifoid, aspergillosis, limposistis, epitheliocystis, dan lain-lain. Mikroba yang menyebabkan infeksi dari penyakit tersebut dikelompokkan menjadi: virus, bakteri, cendawan, dan protozoa.
Peran mikroba yang menguntungkan, antara lain dalam hal membantu metabolisme, sebagai bahan pakan atau pakan tambahan, dan probiotik. Dalam hal metabolisme, mikroba mampu menghidrolisis selulosa, karena enzim selulosa yang dimilikinya. Selain itu bakteri mampu menggunakan urea sebagai sumber N. Dalam penyediaan bahan pakan/pakan tambahan, terdapat jenis mikroba yang sangat potensial (Tabel 6.12)
Mikroba Indikator
Penentuan kriteria kualitas air dan pangan secara biologis antara lain ditentukan oleh kehadiran mikroba, baik mikroba patogen maupun mikroba indikator. Mikroba indikator adalah suatu mikroba non-patogenik yang digunakan sebagai penanda risiko pencemaran oleh pato-gen.
Kualitas air minum ditentukan oleh beberapa kriteria fisik, kimiawi, dan biologis tertentu. Kriteria fisik, antara lain tidak berwarna, tidak berbau; kriteria kimiawi, antara lain pH netral, tidak mengandung logam berat; dan kriteria biologis, antara lain berupa mikroba indikator dan angka kuman total pada yang diperkenankan.
Mikroba dalam bahan pangan dapat terjadi secara alami, sengaja ditambahkan ke dalam bahan makanan, atau dapat pula terjadi akibat pencemaran. Banyak mikroba secara alami di- jumpai pada pangan terutama bahan segar, seperti buah, sayuran, ikan, dan susu. Kehadiran mikroba secara alami dapat terjadi karena mikroba tersebut flora normal pada bahan makanan tersebut.
Kriteria Mikrobiologis Pangan Dan Minuman
Pada era globalisasi kualitas makanan dan minuman dituntut memenuhi standar yang ditetapkan secara global, di antaranya yaitu kualitas berdasarkan kriteria mikrobiologis. Kehadiran rnikroba pada makanan dan minuman karena memang dikehendaki misalnya pada proses fermentasi, tetapi dapat pula hadir sebagai cemaran yang dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan serta dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Kontrol mikroba pada pangan dapat dilakukan secara biologis, fisik, maupun kimiawi. Tindakan kontrol mikroba yang utama yaitu pencegahan sejak awal melaui penerapan HACCP.
Flora Normal
Sejak penemuan Koch perkembangan pengetahuan tentang penyakit infeksi berkembang dengan cepat. Berbagai penyakit yang pada abad lampau dianggap sebagai kutukan seperti lepra dan pes, ternyata terbukti disebabkan oleh kuman. Perhatian kemudian lebih ditekankan pada kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan terjadinya berbagai kasus epidemi.
Mikroba yang hidup dan berkembang dalam tubuh inang tanpa menimbulkan penyakit disebut mikroba flora normal. Faktor-faktor yang menyebabkan kehadiran mikroba flora normal, adalah pH, suhu, potensial redoks, oksigen, air, nutrien, dan lain-lain. Distribusi mikroba flora normal, yaitu kulit, ketiak, dan sela-sela jari kaki, sedang jenis mikrobanya, antara lain: Staphylococcus epidermidis, Microccous luteus, Enterobacter, Klebsiella, E. coli, dan lain-lain.
Infeksi, Penularan, dan Kontrol Penyakit
Kesehatan masyarakat terutama bertitik tolak pada penyakit-penyakit infeksi yang potensial tersebar dalam masyarakat antara lain melalui agen makanan-minuman, udara, air, dan organisme vektor. Berbagai upaya penyebaran penyakit dalam masyarakat perlu dilakukan antara lain dengan perbaikan sarana lingkungan, seperti kebersihan lingkungan rumah, saluran pembuangan yang sehat, sirkulasi udara yang baik. Tidak kalah penting yaitu pemberian pendidikan masyarakat mengenai penyakit dan pemberantasan penyakit dari sumbernya.
Hal yang paling utama untuk kontrol penyakit infeksi, yaitu menghancurkan sumber penularannya. Banyak negara yang berusaha melindungi konsumen dari gangguan kesehatan makanan, melalui uji mikrobiologis terhadap bahan mentah dan olahannya.
Penanganan Limbah
Aktivitas manusia, industri, dan pertanian menghasilkan limbah cair dan padat. Untuk mengurangi cemaran maka limbah pemukiman dan industri harus diolah terlebih dulu sebelum dilepas ke lingkungan. Pengolahan limbah cair dapat dilakukan secara aerobik maupun anaerobik atau kombinasi keduanya dan umumnya dengan 3 tahapan, yaitu tahap primer, sekunder, dan tersier. Adapun pengolahan limbah padat secara biologis umumnya berupa landfill dan pengkomposan. Salah satu akibat masuknya cemaran, yaitu terjadinya suksesi populasi mikroba. Mikroba yang berperan pada pengolahan limbah, antara lain Phanerochaeta chrysosporium, Pseudomonas spp., dan Bacillus spp, Mycobacterium, Vibrio, dan lain-lain. Dalam pengolahan limbah perlu diperhatikan beberapa aspek penanganan limbah, yaitu materi pencemaran, mikroba, faktor lingkungan, serta sistem yang digunakan dalam penanganan limbah.
Bioremediasi
Pencemaran air dan tanah oleh limbah pemukiman maupun industri telah menimbulkan banyak kerugian. Usaha perbaikan lingkunagn yang tercemar dilakukan dengan proses yang dikenal sebagai bioremediasi. Pada dasarnya bioremediasi merupakan hasil biodegradasi senyawa-senyawa pencemar. Bioremediasi dapat dilakukan di tempat terjadinya pencemaran (in situ) atau harus diolah ditempat lain (ex situ). Pada tingkat pencemaran yang rendah mikroba setempat mampu melakukan bioremediasi tanpa campur tangan manusia yang dikenal sebagai bioremediasi intrinsik, tetapi jika tingkatan pencemaran tinggi maka mikroba setempat perlu distimulasi (biostimulasi) atau dibantu dengan memasukkan mikroba yang telah diadaptasikan (bioaugmentasi).

Kamis, 11 Agustus 2011

KIMIA FARMASI

oleh : dinna  

dosen DIII Farmasi STIKES Muhamadiyah Ciamis jawa barat

Berdasarkan struktur kimia, antibiotika dibagi menjadi beberapa golongan yaitu
Gol β laktam
l gol penisilin : penisilin G, Ampisilin, Amoksilin dll
l gol sefalosporin : sefadroksil, sefotaksim, sefriakson dll
Gol tetrasiklin :
l tetrasiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin dll
Gol aminoglikosid :
l gentamisin, neomisin, streptomisin kanamisin dll.
Gol makrolida :
l eritromisin, spiramisin dll.
Gol linkomisin :
l klindamisin, linkomisin dll.
Gol polipeptida :
l polimiksin A,B,C,D dan E.
Gol kuinolon :
l ofloksasin, ciprofloksasin, asam nalidiksat dll.
Gol sulfonamid dan trimetoprim :
l sufosetamid, sulfodiazin, sulfometoksazol dll.
9. Gol Kloramfenikol
Klasifikasi antibakteri

Gugus β laktam
Terdapat pada antibiotik yaitu
1. Golongan penisilin
2. Golongan sefalosporin

PENISILIN

1. Sistem cincin penisilin merupakan suatu cincin β laktam segi empat dan satu cincin tiazolidin segi lima. Bisiklik yang tidak tersubstitusi diberi nama penam
2. Penisilin tersendiri dapat dianggap suatu turunan asil suatu kerangka dasar umum, asam 6-aminopenisiloat (6-APS) yang tidak mempunyai daya antibiotik. 6-APS menyudut disepanjang poros N-4/C-5 dan menyebabkan 3 pusat kiral (C-3, C-5, C-6)
3. Berdasarkan struktur biogenetiknya 6-APS merupakan dipeptida gabungan sistein dan valin.
4. Benzilpenisilin (penisilin G) adalah salah satu penisilin yang terdapat dialam, dan merupakan antibiotik pertama yang dibuat besar-besaran dengan tekhnik fermentasi, benzilpenisilin atau penisilin G suatu senyawa yang tidak toksik tetapi sangat aktif terhadap sepsis stafilokokus, meningitis, atau gonore
5. Cincin penam adalah suatu dipeptida yang terdiri dari sisteina dan sisa valin. Karena ketegangan segi-4 β-laktam, cincin tersebut mudah pecah oleh higrolisis asam atau alkoholis, dan logam berat seperti Zn,Cu,Pb.
6. Kepekaan penisilin terhadap asam cukup beragam, bergantung pada strukturnya . misalnya fenoksimetilpenisilin lebih tahan terhadap pemutusan dibandingkan dengan benzilpenisilin, oleh karena itu lebih cocok untuk pemakaian oral.
7. Penisilin atau penem ditemukan pada tahun 1929 oleh Sir Alexander Fleming.
8. Penisilin dihasilkan oleh jamur penicillium notatum dan P.chrysogenum.

Mekanisme kerja antibiotik β-laktam :
o Antibiotik gol β-laktam merusak dinding sel bakteri.

Mekanisme pertahanan bakteri :
o Bakteri membentuk enzim β-laktamase (penisilinase) gram positif disekresi ke medium gram negatif tetap didalam sel.
o Jadi organisme gram positif merusak antibiotik dengan cepat.
o Muncul galur bakteri tahan β-laktam.

Turunan Penisilin
Fenoksimetilpenisilin (penisilin V), penisilin semisintetik dibuat dengan cara fermentasi.
Propisilin termasuk fenoksipenisilin, penisilin semisintetik, turunan asam R,S-2-fenoksibutirat 6-APS.
Diklosasilin termasuk isoksazolinpenisilin.
Ampisilin, amoksilin, pivampisilin turunan ion zwitter asam R-2-amino-2-aminobenzil penisilin
Karbenesilin adalah α-karboksibenzil-penisilin, yang dibangun dari R,S-2-fenilmalonat dan 6-APS.
Sefaleksin dan sefaklor mempunyai rantai samping fenilglisin, seperti pada ampisilin.
Keaktifan sefalosporin C hanya seperseribu keaktifan benzilpenisilin, sehingga pemakaiannya terbatas.
Tahan terhadap hidrolisis enzim dan menjadi pekat dalam saluran kemih sehingga berguna untuk infeksi saluran kemih yang disebabkan organisme gram negatif.
Sefalotin banyak dipakai, spektrum luas, dan tahan laktamase.
Sefaleksin (analog ampisilin) aktif secara oral, stabil terhadap asam.
Sefotaksim dan moksalaktam sangat aktif terhadap meningitis.

Hubungan struktur aktivitas
Aktivitas antibakteri penisilin dan sefalosporin bergantung pada keutuhan cincin penam dan 3-sefem.
Terbukanya cincin β laktam mengakibatkan seluruh aktivitas hilang.
Kestabilan terhadap asam dan β laktamase tergantung pada struktur.
Meningkatnya kestabilan terhadap asam karena : adana gugus yang menarik elektron diposisi α ke gugus amida rantai samping.
Inaktivasi oleh β laktamase khususnya lebih sulit pada penisilin yang punya residu asil (umpamanya dikloksasilin) karena hambatan keruangan.

Farmakologi
l Terapi praktis penggolongan antibiotik β-laktam, berdasarkan :
a). Spektrum kerja
b). Kestabilan terhadap asam
c). Kestabilan terhadap β-laktamase
d). β-laktamase adalah enzim bakteri yang mempengaruhi hidrolisis cincin β-laktam penisilin dan sefalosporin.
l Resistensi bakteri shg mengakibatkan inaktivasi antibiotik, substrat tempat sergapnya dinamakan :
a). Penisilinase (β-laktamase I)
b). Sefalosporinase (β-laktamase II)
c). Enzim bakteri yang meng inaktivasi kedua antibiotik tsb ((β-laktamase spektrum luas)

l Tetrasiklin adalah golongan antibiotik yang diisolasi dari Streptomyces aureofaciens
l Tetrasiklin yang lebih baru (doksisiklin dan minoksiklin) berbeda dengan anggota yang lebih tua dalam farmakokinetiknya (absorbsi lebih baik dan waktu paruh yang lebih lama)
l Tetrasiklin berupa senyawa kristal berwarna kuning, yang dalam daerah Ph fisiologik sedikit larut dalam air, dapat membentuk garam dengan asam dan garam.

l Kerangka dasarnya adalah oktahidronaftasen yang mengandung satu gugus dimetilamino dan satu gugus karboksamida dan secara khas tersubstitusi dengan fungsi oksigen (gugus OH, enolik, fenolik)
l Tetrasiklin mempunyai lima pusat asimetrik yang dikenal konfigurasi absolutnya.
l Sifat asam diberikan oleh gugus hidroksilenol pada C3 (sebagai bagian gugus asam karboksilat. Dan oleh struktur fenol – diketon (C10 sampai C12)
l Sifat basa diberikan oleh pKa tetrasiklin hidroklorid adalah 3,3 (gugus OH pada C3) 7,7 (struktur fenol – diketon) dan 9,7 (gugus dimetilamino)

l Untuk terapi, tetrasiklin digunakan dalam bentuk hidrokloridnya yang bereaksi dengan asam kuat yang larut dalam air, dan sebagai akibatnya hidrolisis condong untuk mengendap.
l Jenis kerja tetrasiklin adalah bakteriostatik.
l Sistem fenol – diketon menyebabkan dapat membentuk khelat dengan logam bervalensi dua atau lebih (Fe2+, Mg2+, Ca2+, Al3+) kompleks khelat tidak larut dalam air.
l Dengan anion (fosfat dan sitrat) dan zat netral (kafein, polivinil-pirolidon) tetrasiklin membentuk kompleks lemah. Efek ini dimanfaatkan untuk pembuatan sediaan parenteral.
l Epimerisasi pada C4 terjadi pada Ph antara 2 sampai 6 akan memberikan reaksi yang bolak – balik.
l Bergantung pada komposisi larutan bergeser kearah epi.
l Pada ph ≤ 2 tetrasiklin dengan hidroksil pada C6 akan membebaskan air. Dengan aromatisasi akan terbentuk anhidrotetrasiklin.
l Klortetrasiklin adalah labil terhadap basa. Sebagai hasil urai adalah isoklortetrasiklin yang terjadi dengan pembukaan cincin dan kemudian laktonisasi gugus karboksil yang terbentuk pada tahap antara dengan hidroksil pada C6.

PEMBUATAN
l Tetrasiklin yang digunakan dalam terapi diperoleh secara mikrobiologik dari filtrat biak jenis streptomyces atau dengan cara semisintetis. Pembuatan rolitetrasiklin dimulai dari tetrasiklin yang dengan paraformaldehid dan pirolidin akan teraminometilasi.
l Dalam larutan air lambat laun akan terurai menjadi komponen akhir sampai terjadi kesetimbangan.

Farmakologi tetrasiklin
Antibiotik spektrum luas untuk bakteri gram egatif dan positif termasuk riketsia.
Indikasi khas untuk terapi oral jangka waktu lama pada infeksi campur sal pernapasan dan sal empedu.
Bahaya pewarnaan kuning gigi bayi permanen dan tertimbun di tulang, dapat terjadi bila di konsumsi pada kehamilan ke 5 bulan.
Tidak boleh digunakan bersama antasida atau sediaan besi.



Pada tahun 1947 Burkholder mengisolasi suatu galur streptomyces (S.venezuela) pembentuk antibodi, setahun kemudian dari filtrat biaknya dapat diperoleh kloramfenikol kristal.
Kloramfenikol atau D-(-)-treo-2-dikloroasetamido-1-(4-nitrofenil)-1,3-propandiol. Adalah senyawa fenil-propan tersubstitusi.
Kloramfenikol mempunyai dua unsur struktur yang tidak lazim untuk bahan alam, yaitu suatu gugus nitro aromatik dan residu diklor asetil.
Turunan yang gugus hidroksilnya pada C3 terdapat sebagai ester juga digunakan dalam terapi.
Gol. Ini antara lain kloramfenikol-palmitat (asam palmitat = C15H31COOH) dan kloramfenikol hemisuksinat natrium (garam natrium ester hemisuksinat)

Azidamfenikol
Azidamfenikol yang mengandung residu asam azido asetat hanya digunakan lokal dalam bentuk larutan dalam air untuk tetes mata

Biotransformasi kloramfenikol
Metabolit utama kloramfenikol adalah glukuronida nya yang bekerja antibiotik, yang dibuat dihati dan di ekskresikan di ginjal.
Karena pada bayi prematur dan neonatus kemampuan metabolisme hati belum matang sehingga dapat terjadi akumulasi.
Reaksi biotransformasi lain adalah reduksi gugus nitro menjadi amino dan hidrolisis ikatan amida, tapi kurang penting.

Farmakologi Kloramfenikol
Antibiotik spektrum luas dengan cara kerja bakteriostatik.
Indikasi untuk infeksi salmonella (penyebab tifus dan paratifus)
Sebagai antibiotik alternatif karena efek sampingnya dapat merusak sistem pembentukan darah.
Komplikasi paling berbahaya adalah pansitopenia (pengurangan jumlah total sel darah) dan anemia aplastik.

Kerangka dasar linkomisin adalah trans-1-metil-4-propil-L-prolin dan α-metiltioglikosida aminooktosa yaitu linkosamin, yang terikat dengan ikatan amida.
Spektrum kerja antibiotika pada mikroorganisme gram positif dan mikroba anaerob gram negatif.
Digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh stafilokokus, dan mikroba yang resisten terhadap AB β laktam dan eritromisin.
Klindamisin semisintetik, hidroksil pada C7 dengan inversi konfigurasi digantikan oleh klor.

Eritromisin mengandung cincin lakton yang diberinama eritronolid, gula amino D-desosamin, gula netral L-kladinosa.
Antibiotik golongan ini mempunyai ciri cincin lakton makrosiklik 12 anggota sampai 16 anggota, yang terikat secara glikosidik, dengan satu atau dua gula amino.
Kerangka dasar yang lain : gula netral yang terikat langsung pada cincin lakton atau dengan gula amino
Eritromisin sebagai basa sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol dan pelarut organik lain dan berasa pahit.
Pada ph dibawah ph 4 Cepat terurai, maka pemberian secara oral dalam bentuk sediaan diperlambat yang tahan terhadap asam lambung.
Sediaan parenteral digunakan garam yang larut dalam air seperti laktobionat.
Asam laktobionat adalah suatu hasil oksidasi laktosa adalah asam-4-0-β-D-galaktopiranosil-D-glukonat
Reaksi eritromisin dengan asam klorida karboksilat atau anhidrida asam karboksilat hidroksil desosamin teresterkan, dan menghasilkan senyawa lauril sulfat yaitu eritromisinestolat tidak mempunyai rasa pahit yang khas eritromisin.
Makrolida utama adalah eritromisin (eritromisin A),
Termasuk gol makrolid lain adalah spiramisin.

Farmakologi eritromisin
Jenis kerja eritromisin adalah bakteriostatik.
Indikasi untuk infeksi yg disebabkan haemophilus influensa, efek samping kecil.
Penggunaan oral dapat terjadi gangguan GIT ringan.
Spiramisin ekskresi yang tinggi ke dalam saliva, cocok untuk menangani infeksi bakteri di daerah rongga mulut.

Golongan Aminoglikosida :
1. gol. Streptomisin,
2. gol. Neomisin-paramomisin,
3. gol. Kanamisin-gentamisin
Streptomisin untuk membedakan dengan streptomisin lainnya disebut streptomisi A. diperoleh dari streptomyces griseus.
Hanya streptomisin A yang penting untuk terapi.
Sebagai rangka dasar antibiotika aminoglikosida adalah monosakarida, aminomonosakarida (gula amino), dan siklitol basa tersubstitusi (turunan sikloheksan dengan paling kurang tiga gugus hidroksil)
Masing – masing komponen dihubungkan satu sama lain dengan ikatan glikosidik.

Golongan Streptomisin A
l Aglikon streptomisin terdiri dari :
l streptidin, suatu 1,3-diguanidino-2,4,5,6-tetrahidroksisikloheksan yang berkonfigurasi all trans.
l Dua komponen gula yang yang membentuk disakarida streptobiosamin yaitu L-streptosa dan N-Metil-L-2-glukosamin, keduanya terikat pada α glikosidik.

Golongan neomisin-bromomisin
l Kerangka dasar neomisin – paramomisin adalah 2-desoksitretamin yang sebagai aglikon terikat dengan bagian mono dan disakarida
l Neomisin berasal dari streptomyces fradiae yang bagian utamanya adalah neomisin B. neomisin B utama diberinama framisetin.
l Paramomisin diperoleh dari biakan streptomyces rimosus.

Golongan kanamisin – gentamisin.
l Kerangka dasar kanamisin - gentamisin adalah 2-desoksitretamin, tapi terikat dengan dua monosakarida.
l Kanamisin berasal dari streptomyces kanamycetius dan gentamisin, sisomisin dari mikromonospora.
l Ciri khas antibiotik aminoglikosida adalah spektrum kerjanya yang luas.

Farmakologi aminoglikosida
Spektrum luas untuk gram positif dan cara kerja bakterisid.
Indikasi Streptomisin, dicadangkan untuk indikasi khusus yaitu tbc.
Neomisin toksisitas tinggi pada penggunaan sistemik, shg dipakai untuk pemakaian luar infeksi kulit dan selaput mukosa.
Indikasi utama Gentamisin infeksi berat saluran kemih.
Efek samping aminoglikosid secara umum adalah ototoksisitas permanen (gangguan keseimbangan dan pendengaran) karena menyebabkan kerusakan saraf otak ke-8.
Efek samping neurotoksik tergantung dosis dan lama penggunaan.

Antibiotik polieptida dibangun secara siklik.
Polipeptida homomer hanya terdiri dari asam amino.
Polipeptida heteromer mempunyai kerangka lain.
Ikatan homodet, cincin asam amino terikat satu sama lain melalui ikatan amida.
Ikatan heterodet, ikatan tidak hanya ikatan amida tapi ada ikatan lain misal jembatan disulfida.
Tirosidin adalah dekapeptida homomer-homodet basa.
Digunakan untuk terapi adalah golongan tirotrisin di peroleh dari Bacillus brevis.

Gramisidin merupakan pentadekapeptida linier heteromer, yang gugus amino terminalnya terformilasi dan gugus karboksil terminalnya teramidasi dengan etanolamin. Rantainya secara bergantian asam amino L dan D.
Basitrasin adalah dodekapeptida dengan cincin yang dibentuk dari 7 asamn amino. Cincin 2-tiazolin yang terletak pada rantai samping mengandung L-isoleusin dan L-sistein terminal.
Polimiksin adalah dekapeptida heteromer-homodet dan mempunyai cincin heptapeptida.

Farmakologi AB Polipeptida
l Gramisidin dan basitrasin digunakan sbg AB lokal, bekerja thd bakteri gram positif.
l Polimiksin pada pemberian oral tidak diabsorbsi, sehingga digunakan untuk infeksi usus dan digunakan untuk mereduksi kuman didalam usus sebelum pembedahan.

Sulfonamid mengandung bagian sulfanilamido yang tidak tersubstitusi dan 4-amino benzolsulfonil dinamai sulfanilil.
Sulfanilamid, yaitu 4-amino-benzensulfonamida. Bekerja bakteriostatik.
Sulfalen dan sulfadoksin mempunyai paro waktu sangat lama.
Salazosulfapiridin merupakan golongan sulfonamid yang sukar diabsorbsi

SENYAWA YANG BEKERJA PADA SALURAN RESPIRASI

oleh : dinna  

dosen DIII Farmasi STIKES Muhamadiyah Ciamis jawa barat

GOL. BRONKHOSPASMOLITIKA




Xantin



B2-simpatomimetika



Parasimpatolitika



GOL. EKSPEKTORANSIA



Bromheksin



Asetilsistein




Guaifenisin





Karbosistein


GOL. ANTITUSIVA
Noskapin
Isoaminil
Klobutinol

SENYAWA UNTUK PENANGANAN BRONKHITIS DAN ASMA BRONKHIAL

1. ANTITUSIVA
2. EKSPEKTORANSIA
3. BRONKHOSPASMOLITIKA

OVER VIEW
Bronkhitis kronis dan asma bronkhial adalah penyakit saluran pernapasan, yang disertai oleh penyempitan jalan napas (obstruksi).
Obstruksi dapat disebabkan oleh
1. pembengkakan karena radang mukosa bronkhus,
2. Penyumbatan lendir pembentukan sekret meningkat dan perubahan komposisinya
3. Bronkhokontriksi (bronkhospasme)

Manifestasi :1. Kekurangan nafas
2. Refleks batuk

Jika pada bronkhitis kronis :Produksi lendir berlebihan
Batuk kronis
Jika pada asma bronkhial :Penyakit saluran nafas dengan serangan akut dengan karakteristik ; penyempitan bronkhus dan intensitas kekurangan nafas yang tinggi.

Faktor2 yang menimbulkan bronkhitis kronis :1. Infeksi virus
2. Rangsangan kimiawi (polusi udara, asap rokok)
3. Infeksi bakteri.

Bronkhitis akut penyebabnya adalah :1. Virus
2. Komponen penyakit pilek

ANTITUSIVAAntitusiva adalah penghambat refleks batuk.
Anggota terpenting adalah turunan morfin dan analgetika kuat lainnya.
Yang terpenting adalah kodein
Antitusiva lain deretan morfin atau dihidromorfin ialah etilmorfin, dihidrokodein, hidroodon dan tebakon.
Kerja antitusif diperlihatkan juga oleh noskapin (narkotin alkaloid opium).
Dekstrometorfan yang termasuk golongan senyawa morfinan
Normetadon termasuk golongan metadon.

FARMAKOLOGIFaktor2 yang menimbulkan batuk, mengakibatkan stimulasi reseptor batuk, yang terletak didaerah perifer (dalam saluran nafas).
Melalui alur sarafi, rangsang diteruskan selanjutnya ke pusat batuk di medula oblongata, sehingga terjadi batuk.

Sehingga batuk dapat dihambat melalui mekanisme perifer dan sentral.

Antitusiv turunan analgetika kuat bekerja dengan mekanisme pada sentral pada pusat batuk.
Proses batuk sebagai refleks pelindung.
Penghambatan oleh antitusiv merupakan masalah pada sekresi bronkhus yang banyak dan disertai dengan batuk. Sehingga di indikasikan untuk batuk kering, kecuali isoamil.
Senyawa golongan ini tidak menyebabkan kecanduan.

EKSPEKTORANAdalah senyawa yang memudahkan transport keluar lendir bronkhus.
Senyawa nya adalah :
A. Kalium iodida
B. Ammonium klorida
C. Simplisia tanaman atau kandungannya.
D. Prinsip aktif yang dipertimbangkan ialah minyak atsiri dan saponin.
E. Turunan guaiakol seperti guaifenesin atau gluaiakolgriseroleter yang bekerja sekalgus merelaksasi otot, juga digunakan sebagai ekspektora.
F. Turunan sistein yaitu asetilsistein, N-asetil-L-sistein dan karbosistein, bromheksin merupakan senyawa sintetik
G. Dari bromheksin diturunkan metabolit aktif ambroksol

FARMAKOLOGI EKSPEKTORANEkspektoransia yang bekerja sekretolitik merangsang mukosa lambung, sehingga sekresi bronkhus ditingkatkan, melalui stimulasi vagus.
Hal ini mengakibatkan pembentukan sekret yang encer dan denga demikian mudah dabatukan keluar :
A. Kalium iodida tergolong sekretolitik yang paling kuat, penggunaan luas.
B. Asetilsistein, karbosistein dan bromheksin mengurangi viskositas sekret bronkhus, asetilsistein bekerja berdasarkan reaksi kimia langsung dengan glikoprotein yang terdapat di dalam lendir.
Asetilsistein berdasarkan gugus merkapto nya yang bebas dapat memecahkan jembatan disulfida glikoprotein. Reaksi yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut (R-SH = asetilsistein)

SINTESAUntuk pembuatan asetilsistein dimulai dari sistin yang diperoleh dari keratin. Setelah asetilasi dengan asetan hidrida dengan NaOH, senyawa N,N”-diasetilsistin yang terbentuk direduksi dengan seng dalam larutan asam.

BRONKHOSPASMOLITIKASenyawa dari berbagai golongan kerja farmakologik digunakan sebagai bronkhospasmolitik :
1. Parasimpatolitika
2. Β2-simpatomimetika tidak langsung
3. Turunan xantin

Yang terpenting dari golongan parasimpatolitika ialah ipratopiumbromida, suatu turunan 2 propil kuarterner dari atropin, yang digunakan lokal sebagai inhalan (obat hirup)

Β2-simpatomometika terbutalin, fenoterol dan salbutamol.
Efedrin simpatomimetika tidak langsung juga bekerja bronkhospasmolitik.

Turunan Xantin adalah aminofilin (garam teopilin dengan etilendiamine perbandingan 2;1)

FARMAKOLOGIBronkhospasmolitika mengurangi tonus otot bronkhus yang meninggi dan karena itu merupakan indikasi untuk bronkhitis kronis dan asma bronkhial.
Untuk terapi asma bronkhial yang berlatar belakang alergi dan inflamasi terapinya ; glukokortikoid, antihistamin H1 dan asam kromoglisinat.

KERJA BIOKIMIAWIBronkhomotorik dipersarafi oleh parasimpatikus dan simpatikus.
Atropin dan ipratopiumbromida menghambat penyempitan bronkhus.
Sebaliknya β-simpatomimetika menstimulasi dilatasi bronkhus diperantarai oleh c-AMP.
Xantin menaikan konsentrasi c-AMP.

Rabu, 10 Agustus 2011

kimia teknis vs kimia pro analisa


Bahan kimia pro analis adalah bahan kimia yg memiliki kemurnian sangat tinggi (>99,5%) dan biasanya digunakan untuk keperluan laboratorium. Sedangkan bahan kimia teknis adalah bahan kimia yg tidak memiliki kemurnian setinggi bahan kimia pro analis dan biasa dipergunakan dalam proses produksi karena harganya yg relatif jauh lebih murah dr bahan kimia pro analis
bahan kimia p.a. (pro analisa) adalah bahan kimia yang telah dianalisa/diteliti kadar /konsentrasinya secara kuantitatif di laboratorium tempat bahan kimia itu diproduksi. sedangkan bahan kimia teknis dihitung kadar/konsentrasinya hanya dengan hitungan stokiometri tanpa analisa secara kuantitatif.

untuk penggunaannya biasanya bahan kimia p.a. digunakan sebagai reagen(pereaksi) baik itu primer atatu sekunder di laboratorium. sedangkan bahan kimia teknis hanya digunakan sebagai larutan pembersih atau penambah.

Selasa, 09 Agustus 2011

bahan kimia desinfeksi

Mengenal Bahan Kimia Desinfeksi

UNTUK berbagai keperluan tentunya kita telah mengenal, bahkan
mungkin menggunakan beberapa produk keperluan rumah tangga,
laboratorium, atau rumah sakit yang bernama desinfektan. Tak
jarang istilah desinfektan dirancukan dengan istilah lain yakni
antiseptik. Padahal keduanya memiliki definisi dan fungsi yang
berbeda.

Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika
yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran
jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau
menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.
Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat
menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti
bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan
dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan,
peralatan dan pakaian.

Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan
sebagai antiseptik dan desinfektan. Tapi tidak semua bahan
desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam
penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak
merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang
penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu
cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman.
Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat
berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi.

Walaupun kita sering menggunakan produk desinfektan, sebagian
besar konsumen tentunya belum mengenal jenis bahan kimia apa
yang ada dalam produk tersebut. Padahal bahan kimia tertentu
merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan
efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan
dimatikan.

Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis- jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.

Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan,
tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau
golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus
-COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung
gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu

senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X;
golonganfenol danfeno l terhalogenasi, golongan garam amonium
kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golonganbiguanida.
Beberapa jenis bahan yang berfungsi sebagai desinfektan dijelaskan
di bawah ini :
Golongan "aldehid"
Bahan kimia golonganaldehid yang umum digunakan antara lain
formaldehid, glutaraldehiddan glioksal. Golongan aldehidini
bekerja dengan cara denaturasi dan umum digunakan dalam
campuran air dengan konsentrasi 0,5%
5%. Daya aksi berada
dalam kisaran jam, tetapi untuk kasusformaldehid daya aksi akan
semakin jelas dan kuat bila pelarut air diganti dengan alkohol.
Formaldehid pada konsentrasi di bawah 1,5% tidak dapat
membunuh ragi dan jamur, dan memiliki ambang batas konsentrasi
kerja pada 0,5 mL/m3 atau 0,5 mg/L serta bersifat karsinogenik
(dapat menyebabkan kanker). Larutanformaldehid dengan
konsentrasi 37% umum disebut formalin dan biasa digunakan utuk
pengawetan mayat.
Glutaraldehid memiliki daya aksi yang lebih efektif dibanding
formaldehid, sehingga lebih banyak dipilih dalam bidang virologi
dan tidak berpotensi karsinogenik. Ambang batas konsentrasi kerja
glutaraldehid adalah 0,1 mL/m3 atau 0,1 mg/L.
Pada prinsipnya golonganaldehid ini dapat digunakan dengan
spektrum aplikasi yang luas, misalkanformald ehid untuk
membunuh mikroorganisme dalam ruangan, peralatan dan lantai,
sedangkanglutaraldeh id untuk membunuh virus. Keunggulan
golongan aldehid adalah sifatnya yang stabil, persisten, dapat
dibiodegradasi, dan cocok dengan beberapa material peralatan.
Sedangkan beberapa kerugiannya antara lain dapat mengakibatkan
resistensi dari mikroorganisme, untukformaldehid diduga
berpotensi bersifat karsinogen, berbahaya bagi kesehatan,
mengakibatkan iritasi pada sistemmukosa, aktivitas menurun
dengan adanya protein serta berisiko menimbulkan api dan ledakan.
Golongan alkohol
Golongan alkohol merupakan bahan yang banyak digunakan selain
golonganaldehid. Beberapa bahan di antaranya adalahetano l,
propanoldan isopropanol. Golongan alkohol bekerja dengan
mekanisme denaturasi serta berdaya aksi dalam rentang detik hingga
menit dan untuk virus diperlukan waktu di atas 30 menit. Umum
dibuat dalam campuran air pada konsentrasi 70-90 %.

Golongan alkohol ini tidak efektif untuk bakteri berspora serta
kurang efektif bagi virus non-lipoid. Penggunaan pada proses
desinfeksi adalah untuk permukaan yang kecil, tangan dan kulit.
Adapun keunggulan golongan alkohol ini adalah sifatnya yangn
stabil, tidak merusak material, dapat dibiodegradasi, kadang cocok
untuk kulit dan hanya sedikit menurun aktivasinya bila berinteraksi
dengan protein . Sedangkan beberapa kerugiannya adalah berisiko
tinggi terhadap api/ledakan dan sangat cepat menguap.
Golongan pengoksidasi

Bahan kimia yang termasuk golongan pengoksidasi kuat dibagi ke dalam dua golongan yaknip ero ks id a danperoksigen di antaranya adalah hidrogen peroksida, asam perasetik, kalium peroksomono
sulfat, natrium perborat, benzoil peroksida, kalium permanganat.

Golongan ini membunuh mikroorganisme dengan cara
mengoksidasi dan umum dibuat dalam larutan air berkonsentrasi
0,02 %. Daya aksi berada dalam rentang detik hingga menit, tetapi
perlu 0,5 - 2 jam untuk membunuh virus.
Pada prinsipnya golongan pengoksidasi dapat digunakan pada
spektrum yang luas, misalkan untuk proses desinfeksi permukaan
dan sebagai sediaan cair. Kekurangan golongan ini terutama oleh
sifatnya yang tidak stabil, korosif, berisiko tinggi menimbulkan
ledakan pada konsentrasi di atas 15 %, serta perlu penanganan
khusus dalam hal pengemasan dan sistem distribusi/transpor.
Golongan "halogen"
Golonganhalogen yang umum digunakan adalah berbasisiodium
seperti larutan iodium, iodofor, povidon iodium, sedangkan senyawa
terhalogenasi adalah senyawa anorganik dan organik yang
mengandung gugushalogen terutama gugus klor, misalnyanatrium
hipoklorit, klor dioksida, natrium kloritdan kloramin. Golongan ini
berdaya aksi dengan cara oksidasi dalam rentang waktu sekira 10-30
menit dan umum digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 1-
5%. Aplikasi proses desinfeksi dilakukan untuk mereduksi virus,
tetapi tidak efektif untuk membunuh beberapa jenis bakteri gram
positif dan ragi.
Umum digunakan sebagai desinfektan pada pakaian, kolam renang, lumpur air selokan. Adapun kekurangan dari golonganhalogen dan senyawa terhalogenasi adalah sifatnya yang tidak stabil, sulit
terbiodegradasi, dan mengiritasimukosa.
Golongan "fenol"
Senyawa golonganfeno l danfenol terhalogenasi yang telah banyak
dipakai antara lainfeno l (asam karbolik), kresol, para kloro kresol
dan para kloro xylenol. Golongan ini berdaya aksi dengan cara
denaturasi dalam rentang waktu sekira 10-30 menit dan umum
digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 0,1-5%. Aplikasi
proses desinfeksi dilakukan untuk virus, spora tetapi tidak baik
digunakan untuk membunuh beberapa jenis bakteri gram positif dan
ragi. Umum digunakan sebagai dalam proses desinfeksi di bak
mandi, permukaan dan lantai, serta dinding atau peralatan yang
terbuat dari papan/kayu.
Adapun keunggulang dari golongan golonganfenol danfeno l
terhalogenasi adalah sifatnya yang stabil, persisten, dan ramah
terhadap beberapa jenis material, sedangkan kerugiannya antara lain
susah terbiodegradasi, bersifat racun, dan korosif.
Golongan garam
amonium kuarterner
Beberapa bahan kimia yang terkenal dari golongan ini antara lain
benzalkonium klorida, bensatonium klorida,dan setilpiridinium
klorida. Golongan ini berdaya aksi dengan cara aktif-permukaan
dalam rentang waktu sekira 10-30 menit dan umum digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 0,1%-5%. Aplikasi untuk proses desinfeksi hanya untuk bakteriveg etat if, danlipov irus. terutama untuk desinfeksi peralatannya.
Keunggulan dari golongan garam amonium kuarterner adalah ramah
terhadap material, tidak merusak kulit, tidak beracun, tidak berbau
dan bersifat sebagai pengemulsi, tetapi ada kekurangannya yakni
hanya dapat terbiodegradasi sebagian. Kekurangan yang lain yang
menonjol adalah menjadi kurang efektif bila digunakan pada
pakaian, spon, dan kain pel karena akan terabsorpsi bahan tersebut
serta menjadi tidak aktif bila bercampur dengan sabun, protein,
asam lemak dan senyawa fosfat.
Salah satu produk yang sudah dipasarkan dari golongan ini diklaim efektif untuk membunuhparvov irus, di mana virus ini merupakan jenis virush idro f ilik yang sangat susah untuk dimatikan
dibandingkan viruslipo filik.
Golongan "biguanida"
Bahan kimia yang sudah digunakan dari golongan ini antara lain
klorheksidin. Klorheksidin terkenal karena sangat ampuh untuk
antimikroba terutama jenis bakteri gram positif dan beberapa jenis
bakteri gram negatif.Klorheksidin sangat efektif dalam proses
desinfeksi Staphylococcus aureaus, Escherichia coli, dan
Pseudomonas aeruginosa, tetapi kurang baik untuk membunuh
beberapa organisme gram negatif, spora, jamur terlebih virus serta
sama sekali tidak bisa membunuh Mycoplasma pulmonis.
Faktor yang harus
diperhatikan
Dari semua bahan desinfektan tersebut di atas tidak semua dapat
efektif dalam semua kondisi dan aplikasi. Perbedaan jenis
mikroorganisme serta kondisi lingkungan akan menjadi faktor yang
harus dipertimbangkan dalam sensitivitas atau resistensinya.
Supaya fungsi desinfektan menjadi efektif, maka ada beberapa
faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan produk desinfektan,
yakni harus dapat digunakan dalam spektrum dan aktivitas
penggunaan yang luas, menunjukkan daya reduksi/bunuh terhadap
mikroorganisme hidup pada saat berkontak, dapat bekerja pada
rentang pH dan suhu yang luas, dapat bekerja dengan adanya
senyawa organik, waktu paparan/kerja yang cukup singkat, batas
konsentrasi yang kecil, dan stabilitas senyawa.

Selain itu, untuk aplikasi di lapangan terdapat kecenderungan
konsumen untuk memilih desinfektan yang aman bagi lingkungan,
mudah untuk digunakan, daya aksi yang cepat serta murah. Tetapi
faktor harga terkadang menjadi batasan tersendiri. Sebagai contoh
banyak konsumen menggunakan desinfektan gas klor (klorin) untuk
proses desinfeksi air. Bahan tersebut bekerja dengan baik untuk
membunuh bakteri, fungi dan virus, tetapi bahan ini mempunyai
efek merusak/korosif pada kulit dan peralatan. Selain itu gasklorin
juga berpotensi merusak sistem pernapasan bagi manusia dan
binatang.
Dengan mengetahui dan mengenal jenis bahan kimia yang
digunakan dalam produk desinfektan diharapkan konsumen dapat
memilih produk yang tepat sasaran, yakni kesesuaian antara bahan
kimia yang dikandungnya dengan jenis dan target
mikroorganismenya. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan menjadi
tepat sasaran, berhasil guna dan berdaya guna. Manfaat lain adalah
dengan mengetahui risiko dan efek negatif yang mungkin
ditimbulkan oleh bahan kimia dalam desinfektan, seperti risiko
keracunan pada anak, polusi terhadap lingkungan, risiko terhadap
kesehatan serta efek karsinogen, maka diharapkan konsumen lebih
berhati-hati dalam penggunaan dan penanganan produk-produk
tersebut.***

Eriawan Rismana, M.S.,
Peneliti Muda di P3Teknologi Farmasi dan Medika BPPT Jakarta

Rabu, 03 Agustus 2011

kontak kami

GLOBAL SCIENTIFIC

Jl. Tulip Raya Blok M3 No.27 GBA 2 (Griya Bandung Asri 2)
Telp : 022-7533009. Fax : 022-87520422
Mobile : (CALL/SMS - UP : RURI ) 085721729731, (WA - RURI) 089611811402
E-mail : ruri.kalifa@gmail.com  atau global_scientific@yahoo.co.id

Twitter Facebook Digg Favorites